
Intermezzo dulu sebelumnya. Disadari atau tidak, sebenarnya cukup banyak ilmu di bangku sekolah yang bisa kita manfaatkan dalam kehidupan nyata. Sayang sekali justru sistem pendidikan di Indonesia tidak mampu mengakomodasi hal itu. Anak diajarkan untuk mengejar nilai setinggi-tingginya, mereka harus pintar menghapal, pintar berhitung, tapi ketika disuruh mempraktekannya, hasilnya nul puhtul, nggak ngerti apa-apa.
Celakanya kesalahan yang sudah bermula dari sejak kita di bangku SD ini justru berlanjut hingga ke level perguruan tinggi. Boleh jadi, 16 tahun lebih waktu yang kita habiskan untuk belajar jadi sia-sia. Beberapa relasi saya yang bekerja sebagai HRD mengeluhkan hal ini. Mereka terima lulusan fresh graduate, IP tinggi, tapi ternyata ketika disuruh langsung terjun ke dunia kerja, mereka tidak siap. Akhirnya perusahaan harus keluar duit lagi buat training, dan lain sebagainya.
Oke, cukup deh nglanturnya. Kembali ke topik.
Saat kita belajar fisika di tingkat SMP pasti telah dikenalkan oleh guru kita mengenai Hukum Newton. Materi ini diulang lagi di tingkat SMA (dan juga di level Perguruan Tinggi, terutama untuk anak teknik). Hukum Newton sendiri adalah hukum sains yang ditemukan oleh Sir Isaac Newton mengenai sifat gerak benda. Newton pertama kali mengumumkan hukum ini dalam jurnalnya yang berjudul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica pada 1687, dan menjadi fenomenal karena merupakan dasar dari mekanika modern. Tanpa Newton tidak akan ada mobil dan sepeda motor seperti saat ini. Boleh jadi pula NASA tidak akan pernah mengirimkan manusia ke bulan.
Lalu apa kaitannya dengan saham?
Seperti kita ketahui saham (dan instrumen derivatif lainnya, seperti forex, futures, dll) merupakan salah satu bentuk investasi yang memiliki fluktuasi atau gerakan yang cukup aktif. Mengetahui pola pergerakan ini merupakan salah satu kunci untuk bertahan di market. Inilah yang dipelajari oleh Charles Dow, Ralph Nelson Elliot dan para technicalist lainnya. Dasarnya apa? Lagi-lagi ya Hukum Newton ini.
Nggak percaya? Oke, saya refresh lagi ingatan anda. Hukum Newton terbagi menjadi tiga asas, Hukum Newton I berbunyi: “Benda yang dalam keadaan diam akan mempertahankan keadaannya untuk tetap diam dan benda yang sedang bergerak lurus beraturan akan cenderung mempertahankan keadaannya untuk bergerak lurus beraturan dalam arah yang sama selama tidak ada gaya yang bekerja padanya.”
Sementara itu Dow Theory menyatakan bahwa: “Prices move in trends” atau dengan kata lain terdapat suatu pola dalam pergerakan harga saham. Saham yang naik akan terus naik, dan bergerak dalam pola atau jalurnya, dimana ia akan membentuk higher high dan higher low (pembahasannya kapan-kapan ya). Saham yang turun, ya juga akan terus turun. Saham yang tidur, juga akan terus diam (tidur). 
Sampai kapan dia akan terus naik/turun? Ya sampai ada gaya yang berlawanan yang mampu merubah trend saham tersebut, atau kita kenal sebagai rebound/reversal. Saham yang naik akan berbalik arah menjadi turun jika dipicu aksi jual besar-besaran (seller) yang mengalahkan buyer atas saham tersebut. Demikian pula saham yang bearish akan rebound jika pada titik tertentu ada aksi beli (buyer) yang mampu mengangkat harga saham.
Jadi kalau ada seseorang yang bertanya, “Pak, saya beli saham Bxxx kok turun terus ya? Apa apa? Padahal ini perusahaan bagus lho, kata analis world class asset.” Saya gampang saja jawabnya, “Lho, ya salahmu sendiri, saham lagi bearish kok kamu beli..” Lalu dia tanya lagi, “Kata analisnya XX, dia bakal naik ke 4000 lho. Berarti dia salah ya?” “Nggak Pak, yang salah guru fisika Anda di SMP, sudah tahu muridnya nggak ngerti, gitu kok masih dilulusin.. :p”
Oke, next kita lanjut ke Hukum Newton yang kedua: “Percepatan sebuah benda yang diberi gaya adalah sebanding dengan besar gaya dan berbanding terbalik dengan massa benda.”
Seberapa tinggi suatu saham akan naik atau seberapa rendah suatu saham akan dibanting bergantung pada gaya yang terbentuk pada awal pembentukan trend. Apabila di ilmu Fisika gaya ini dinyatakan dalam satuan Newton (N), maka dalam ilmu trading, gaya ini dinyatakan dalam satuan Volume. Volume yang besar merupakan gambaran adanya proses akumulasi/distribusi, dan ini merupakan indikator yang sangat menentukan apakah suatu proses kenaikan/penurunan akan berlanjut. Volume yang drop menandakan kenaikan/penurunan harga saham tidak disetujui oleh market. Sebagai contoh kasus, lihatlah volume IHSG yang drop sejak memasuki level 2000-an. Jadi jika tadi pagi IHSG dibanting hingga ke level 2235 semestinya Anda tidak perlu heran.
Kita berlanjut ke Hukum Newton III yang berbunyi: “Setiap ada gaya aksi, maka akan selalu ada gaya reaksi yang besarnya sama tetapi arahnya berlawanan.”
Seringkali kita mendengar seorang pemain saham berkata, “Waduh, banyak yang jual XXXX lho, habis ini pasti turun” Fakta yang perlu saya ingatkan adalah sebenarnya di bursa saham, jumlah pembeli sama dengan jumlah penjual. Lha terus, kenapa bisa naik turun harganya? Prinsip ekonomi, supply (penawaran) dan demand (permintaan). Apa yang menggerakkan supply dan demand? Itu adalah fear and greed. Dalam situasi fear, seperti waktu crash 2008 lalu, dimana banyak berita buruk ditebar, para pelaku pasar tidak akan segan-segan menjual sahamnya di harga lebih rendah, demi mengamankan modal mereka. Sementara dalam situasi bullish, saat optimisme menyebar, para analis mengupgrade target price, muncul perasaan greed. Mereka nekat menabrak antrian offer, karena takut ketinggalan kereta, dengan harapan bisa menjual lagi di harga lebih tinggi.
Setelah membaca artikel ini, Anda mungkin merasa, “Oh, gitu toh. Saya juga udah ngerti dari dulu-dulu.” Kalo memang sudah mengerti kenapa kok masih sering rugi saat trading saham? Kok sekarang masih nyangkut? Memang artikel ini sebenarnya merupakan basic dari pembelajaran trading, dasar dari ilmu analisa teknikal. Kesalahan paling fatal dari pada trader pemula adalah mereka langsung hantem kromo. Bukannya mempelajari ilmu-ilmu TA dasar seperti Dow Theory, tapi justru langsung mengeluarkan jurus-jurus sakti seperti stochastic, Bollinger Band, mulut buaya, buntut sapi, ceker ayam (lho, emang ada ya..??). Ibarat mengemudi, seperti sopir metromini. Jago sih, tapi nggak paham aturan-aturan dasar berlalu lintas. Jadilah dia nyelonong kiri kanan seenak udel.
Semoga bisa menjadi pencerahan buat kalian semua.
Regards,
Yudizz