2010: Outlook

January 5th, 2010

Setelah 1 bulan absen baru sekarang saya punya kesempatan untuk menulis lagi…  =) 

Selamat tahun baru buat semua pembaca milis dolgado!! Semoga tahun ini membawa berkah bagi kita semua. Now let’s get down to business: bagaimana prospek ekonomi dan IHSG tahun 2010 ini ?

Memasuki tahun 2010 ini perekonomian global belum pulih dari badai krisis finansial 2008 jadi tema ‘recovery’ masih akan mendominasi tahun ini. Namun untuk perekonomian indonesia (katanya, terutama kata pemerintah) akan terus membaik. Indonesia relatif terlindung dari krisis global, tercatat hanya satu kasus bail out (century) yang dilakukan pemerintah. Terlepas dari benar salahnya tindakan pemerintah, kenyataan membuktikan bahwa sektor finansial kita selamat dari badai krisis (cukup ironis jika sekarang mereka2 yang berani ambil keputusan untuk menyelamatkan sektor keuangan kita sekarang malah dihujat habis2an… tapi itulah politik.)

Sektor keuangan kita memang selamat (tidak hancur) tapi apa ini berarti perbankan kita cukup sehat? Coba kita lihat spread antara bunga yang diberikan bank dan bunga yang dibebankan kepada para debitur. Sekarang ini bunga tertinggi yang diberikan adalah 7% sedangkan bunga kredit masih ada di kisaran 12%.  Spread yang sedemikian tinggi (5%) menunjukkan bahwa sektor perbankan kita masih enggan menyalurkan kredit murah. Ini akan menghambat daya saing pengusaha2 lokal dibanding dengan kompetitor mereka di luar negeri yang menikmati bunga kredit yang murah. Belum lagi dengan trend penguatan rupiah yang walaupun menurut saya tidak akan berlangsung lama, tetap saja menghantam kompetensi eksport kita.

Di lain pihak, seharusnya penguatan rupiah ini dimanfaatkan untuk import barang2 produktif se besar2nya. Dengan positioning yang sedemikian rupa, ketika rupiah kembali melemah (pasti akan terjadi dengan bunga acuan BI rate jauh lebih tinggi drpd negara2 maju yang menjadi benchmark, pendeknya pertambahan rupiah jauh lebih cepat daripada mata uang acuan) maka kita ada di posisi siap bersaing dengan produk2 luar negeri.  Tapi ada satu kendala: birokrasi. Sekarang ini ada wabah yang melanda para pejabat kita: “wabah takut salah”. Yang (merasa) tidak melanggar aturan saja bisa dicari2 kesalahannya (dicarikan aturan yang kira2 dilanggar), apalagi yang tidak tau aturan… sudah hampir pasti akan melanggar. Sedangkan untuk tau aturan seluruhnya jelas tidak mungkin karena ketika mengerti 1 aturan, ada 3 aturan lagi yang sudah dikeluarkan. Mengapa bisa begitu banyak aturan? …mungkin itu benchmark bagi mereka2 yang bikin aturan, bahwa produktivitas mereka diukur dari jumlah peraturan yang dibuat. Mengambil istilah mantan wapres JK: “hutan rimba peraturan”. Hutan inilah yang harus dibabat sebelum negara kita bisa maju.

Pemerintah sedang mengusahakan kredit murah utk pengusaha, namun perlu pula dipikirkan birokrasi yang ada untuk dunia usaha. Apa gunanya dapat pinjaman ketika mau mengurus perizinan harus menunggu ber bulan2, mungkin ketika izin baru keluar kompetitor di luar negeri sudah memasarkan produknya ke negara tujuan.  Namun sedikit angin segar adalah ketersediaan listrik dari PLN, proyek2 yang direncanakan akan segera (atau mungkin sudah) operasional. Bisa dibayangkan negeri ini yang setahun lalu dihadapkan pada krisis listrik saja masih mampu mencatatkan pertumbuhan yang lebih baik dari negara tetangga, apalagi ketika kebutuhan listrik tercukupi, seharusnya outlook ekonomi kita makin positif.

Bagaimana dengan prospek IHSG? Saya pernah berkomentar di milis saya optimis IHSG akan menembus level 2600 sebelum akhir tahun. Ternyata prediksi saya sedikit meleset, baru pada 5 januari IHSG menembus level 2600. Tapi saya gembira prediksi saya meleset, karena saya punya keyakinan (maklum pasar saham itu mistis sekali… coba tanya suhu2 yang sudah pengalaman, pernah salah nggak?, nggak ada yang nggak pernah salah walau ilmu sudah langit ketujuh – warren buffet saja bisa salah. Itulah mengapa saya sebut ‘mistis’) bahwa apabila IHSG ditutup sangat positif (2600+) awal tahun bisa terjadi koreksi. Saya kira semua sepakat bahwa ekonomi baik global maupun lokal tahun 2010 akan lebih baik daripada tahun 2009 . Itu adalah sisi positif yang akan berimbas pada pasar saham. Negatifnya, karena ekspektasi yang positif itu, apabila ada penyimpangan dalam realisasi ekspektasi positif tersebut bisa jadi akan terjadi koreksi besar2an. Belum lama kasus dubai world mengguncang dunia, sepertinya pesta tahun baru para trader & broker (dan saya yakin mereka pesta besar karena cuan cukup besar di 2009) membuat mereka lupa bahwa krisis belum sepenuhnya berlalu. Apabila utang swasta di bail out oleh pemerintah, bagaimana dengan utang pemerintah? siapa yang mau bail out? …ada yang berpikiran ini tidak akan terjadi, impossible katanya. Tapi tiga tahun lalu siapa yang berani bilang bahwa AIG, lehman bros, citibank, dll akan collapse?

Secara umum apabila tidak ada kasus2 yang mengguncang pasar saham (seperti BUMI mesti bayar pajak rp 2 trilliun, atau gagal bayar obligasi persh besar) maka IHSG akan terus terangkat ke atas. Mendekati LK Q1 apabila seluruh indikator menunjukkan signal positif maka bisa diprediksi indeks akan menghijau. Tinggal masalah seberapa tinggi dan seberapa cepat IHSG akan terkerek naik. Semakin tinggi dan semakin cepat, tentu resiko koreksi juga semakin besar.

Namun terlepas dari itu semua, untuk IHSG sangat susah diprediksi karena faktor asing sangat besar. Bagi mereka market caps BEI sangat kecil, jadi cukup mudah untuk ‘dimainkan’. Memprediksi arah pergerakan IHSG tidak lepas dari prediksi pasar global. Namun saua relatif cukup optimis untuk jangka waktu satu bulan ini. Salah satu pemicunya adalah larinya dana para pemilik deposito ke pasar modal. Sekedar info, sebelum akhir tahun 2009 terutama di bulan desember, bank2 besar kita ramai2 menawarkan ’special rate’ bagi pemilik deposito, ini adalah window dressing untuk laporan keuangan mereka di akhir tahun. Umumnya ini ditawarkan dalam jangka waktu tertentu. Setelah itu tentunya balik lagi ke normal rate deposito, ketika ini terjadi bisa jadi para pemilik deposito ini akan beralih ke pasar modal baik secara langsung atau membeli produk reksadana.

Selama tahun 2009 karena indeks terus naik, saya yakin rekan2 investor banyak yang cuan banyak. Bagi yang mengalami kerugian mungkin sebaiknya beralih ke deposito… kalau indeks hijau saja tidak bisa cuan, apalagi kalau merah (atau jangan2 yang rugi karena pada short?? ….hehehe). Untuk tahun ini saya pribadi di posisi wait, menunggu koreksi tajam untuk tambah posisi. Namun koreksi ini kemungkinan akan terjadi dalam waktu yang tidak singkat, bisa jadi setelah LKQ1 keluar, atau bahkan sama sekali tidak ada koreksi tajam di tahun ini! Kuncinya ya timing (dan analisa baik fundamental / teknikal yang kuat). Dan tentu saja… jangan lupa untuk beramal apabila sudah cuan besar, meskipun saya jarang praktek tapi saya yakin kebaikan akan berbuah kebaikan!!!

Salam,

Arah pergerakan USD

November 26th, 2009

> Dominique Strauss-Kahn, who heads the IMF, called on China to let yuan appreciate, “the sooner the better”. China tightly control its currency by pegging it to the dollar -benefiting domestic exports- and has so far resisted pleas to allow it rise.

==> Ini artinya china keeps buying USD (beli terus), lain di mulut lain di hati, ngomongnya nggak akan beli USD, tapi nyatanya tetep beli terus. Makanya sampai dihimbau utk lepasin cadangan USDnya. Trading partner terbesar China adalah US, dan USD juga adalah patokan yang digunakan menentukan mata uang china, jadi kalau USDnya dijual nilai yuan akan naik terhadap semua mata uang. Salah satu solusi bagi china adalah akumulasi euro, tapi ada satu masalah, EU juga nggak akan tinggal diam kalau mata uangnya diborong. Negara2 tonggak EU seperti jerman, prancis, dll mereka itu juga bergantung kepada eksportnya, kalau euro naik terus harga produk mereka jadi tidak kompetitif. Yang mareka akan lakukan adalah memborong USD supaya mata uang mereka tetap terjaga nilainya.

Kalau china lepas USDnya mereka harus cari obyek baru untuk penyimpan nilai, kalau memilih yuan jelas tidak efektif karena yuan tidak banyak diminati di pasar global (ada eksportir yang mau dibayar yuan? yang mau harus punya cara buat buang barangnya, misalnya punya usaha di china, baru mau mereka, kalau yuan digunakan untuk beli mesin dari jerman… kaga laku). Obyek yg paling jelas adalah euro (sebetulnya yen juga punya ‘market caps’ yang besar, tapi secara historis china tidak suka dengan jepang karena pernah dijajah – pembelian JPY akan menciptakan kontroversi politik), kalau EU membeli USD (menerbitkan obligasi dalam USD) berarti ini sama saja EU membeli cadangan devisa USD china …dengan kondisi USD sekarang, bisa dipastikan EU membeli dengan harga murah ditambah bonus produk2 EU jadi lebih kompetitif.

Menurut saya china nggak akan lepas USDnya, yang ada mereka akan bikin rumor akan melepas, setelah USD turun, mereka sendiri yang borong… kemungkinan USD itu akan mereka gunakan untuk membeli aset2 di US… ini akan mendorong ekonomi US juga yang merupakan konsumen terbesar china. Utk prospek USD: USD turun karena volume perdagangan global menurun cukup drastis. Saya baca majalah ttg perbandingan volume eksport & import indonesia jan-aug ‘08 dibanding ‘09, ada penurunan signifikan kalau nggak salah angkanya sampai 25%. Sebagai mata uang perdagangan global ketika perdagangan sepi, otomatis demand USD juga turun yang akhirnya menekan harga. Yang menarik the feds malah memberi signal bahwa mereka tidak akan menaikkan suku bunga dalam jangka pendek menengah, tentu ini juga menekan USD. Kenapa the fed ingin USD yang lemah??… opini saya, ini untuk ‘memaksa’ rakyat amerika yg terkenal doyan belanja supaya berhemat (USD yg lemah membuat barang2 impor semakin mahal) dan beli produk dalam negeri. USD yang lemah ditambah deflasi di pasar domestik US juga akan membuat US menarik untuk investor2 asing (kapan lagi bisa beli property di US harga murah gini?).

Salah satu kesalahan china adalah tidak melepas USDnya ketika sedang tinggi2nya di akhir tahun 2008, mungkin mereka berpikiran biarkan saja USD menguat, karena di atas buku aset mereka juga melambung ditambah eksport akan tambah kencang. Ketika USD terus naik, tentu ada pihak2 yang mau profit taking (saya sempat jual di rp11.500/USD), ditambah penurunan demand ketika aset2 toxic sudah digulung & penurunan perdagangan global, akhirnya momentum berbalik arah USD terus meluncur turun.

Untuk ke depan, jangka pendek & menengah saya rasa USD masih downtrend… tapi IDR juga downtrend menurut saya, karena IDR terlalu kuat bisa menekan eksport. Jangan lupa subsidi BBM juga sudah hampir tidak ada (atau malah mungkin surplus sekarang) semakin rendah nilai IDR semakin untung pemerintah, toh cadangan devisa juga nggak gede2 amat di angka 60 milliar USD. Dengan suku bunga yg cenderung terus turun juga akan menekan IDR. Kalau punya IDR ditukar ke USD masih boleh lah.

DISCLAIMER ON

Yok rame2 membela pencuri

November 21st, 2009

Setelah kerusuhan tahun 1998, Probosutedjo (adik tiri alm. mantan presiden Soeharto) berkomentar bahwa wajar saja terjadi penjarahan karena para penjarah tersebut kelaparan & miskin (kalau yg dijarah adalah milik beliau, mungkin komentarnya lain lagi).  Yang terjadi kemudian beliau sendiri divonis pengadilan bersalah dalam perkara korupsi dan telah menjalani hukumannya. Jadi tidaklah aneh apabila seorang maling membela maling2 yang lain.

Baru2 ini ada kasus dimana seorang nenek Minah mencuri tiga biji kakao (senilai rp 1500) yang kemudian divonis oleh pengadilan 1 bulan 15 hari penjara potong masa tahanan. Lalu terjadilah kontroversi, karena ada pihak2 yang menganggap bahwa kasus ini terlalu kecil (saya lebih percaya media sengaja mengangkat headline seperti ini untuk menaikkan ratingnya). Bahkan ada yang bilang seharusnya kasus ini tidak diproses oleh kepolisian. Ada juga pihak2 yang menuntut supaya nenek Minah divonis bebas (seperti dilaporkan oleh media). Di mata sebagian orang tindakan memenjarakan nenek Minah (walaupun efek dari vonis tsb nenek Minah sudah bebas karena sudah masa tahanan dijalani) adalah tindakan berlebihan yang berlawanan dengan hati nurani. Saya sendiri juga berpendapat bahwa seharusnya kasus ini bisa diselesaikan sebelum laporan kepolisian resmi dibuat (berapa duit yg dihabiskan? padahal nilai yg dicuri kurang dari 5 ribu perak). Tetapi, ketika korban pencurian bersikeras untuk membuat laporan, mau tidak mau, suka tidak suka, harus diproses – itulah hukum. 

Kasus ini cukup signifikan karena ada pihak2 yang menilai bahwa tidak seharusnya nenek Minah dihukum. Tapi seandainya seorang pencuri yang sudah terbukti mencuri tidak dihukum, apa yang terjadi dengan negara kita ini? yang (katanya) adalah negara hukum. Saya jadi ingat salah satu perkataan bahwa moralitas itu tidak bisa relatif. Sesuatu yang salah adalah… salah. Kalau pencurian dianggap salah, maka tidak ada hal2 lain yang bisa membenarkan tindakan tersebut, dan ini berlaku kepada semua orang baik tua muda kaya miskin laki2 perempuan, dsb.

Cukup ironis bahwa di satu pihak ada yg ingin memberantas korupsi (yang notabene juga tindakan pencurian/penggelapan), tapi di lain pihak ada yg membela pencuri yang sudah terbukti bersalah (dengan alasan nilai yang dicuri sangat sedikit & pelaku adalah orang kecil yang miskin).

Trading saham = judi?? …tunggu dulu

November 17th, 2009

Trading saham menurut saya lain dengan judi.  Saya pernah ke kasino (di luar negeri tidak dilarang). Judi itu duit cepet banget abisnya, sebaliknya kalau lagi hoki bukan ratusan persen, bisa ribuan persen atau bahkan puluhan ribu persen untungnya.
Judi juga nggak bisa pake TA / FA… pure hoki. Kecuali judi kartu, itupun sekarang deck sudah dicampur, nggak bisa dihitung lagi kartunya sudah keluar atau belum.

Perbedaan mendasar dari judi dan trading saham itu terletak pada peluang. Kalau judi ada bandarnya, misal main dadu 1:5 kalau menang anda dapat 5 kali… ini kan lebih rendah wong probabilitasnya 6 kali. Tapi kembali lagi terserah bandarnya, kalau anda tidak setuju ya anda tidak bisa menawar nawar lagi…. Peluang semuanya ada di tangan bandar. Kalau trading saham, tidak ada satu pihak
yang bisa ‘mengatur’ saham ini mau naik atau turun… memang ada yang duitnya bejibun berusaha memanipulasi pasar… tapi kalau asing masuk, resiko juga dia. Kalau bandar judi resikonya ditangkap polisi… hehehe. Kalau pasar saham ini kan jual beli, ada yang jual ada yang beli… sama2 mau. Soal harga ya terserah penawaran, sistemnya sistem lelang.

Lha kalau seperti ini dibilang judi… lelang property hasil sitaan bank juga judi donk, kan nggak pasti harganya. Lelang SUN / Sukuk sekalian juga judi kan… semuanya dilelang kok.

Tapi ya itu terserah masyarakat mau menilai apa… yg jelas judi itu seolah duit yg diperoleh dari pasar saham = duit haram. Tanpa adanya pasar saham… persh2 itu punya modal dari mana untuk ekspansi usaha? Pikirkan juga donk karyawan2 mereka. Ketika TLKM ada caps expenditure untuk membuat jaringan fiber optic, pekerja galian dapet duit, pemborong2 mereka juga dibayar…. kalau nggak ada pasar saham bisa jadi mereka cuman nongkrong di rumah nungguin BLT.

Salam,

Harga emas

November 9th, 2009

Harga emas menembus $1100 untuk pertama kali dalam sejarah. Apakah akan ada koreksi atau malah tercipta momentum untuk terus mencetak new high? Prediksi saya dalam jangka pendek menengah harga emas akan terus melaju. Secara historis harga emas pernah menyentuh $850 di awal tahun 80an, kalau dihitung dengan faktor inflasi diperkirakan harga emas saat itu setara dengan $2000 lebih nilai uang sekarang!! Jadi bisa dibilang secara historis nilai emas sekarang ini baru 50% dari nilai emas tahun 80an, masih sangat jauh.

Tapi di sisi lain, emas bukan komoditas yang habis dikonsumsi. Lain dengan minyak bumi / batu bara, kalau sudah dipakai ya menguap, habis… Kalau emas batangan tidak akan habis dimakan waktu sampai kapanpun. Jadi supply ini selalu bertambah setiap tahun. Pertambahan supply hanya akan berhenti ketika emas sudah tidak diproduksi lagi, padahal persh2 tambang sudah merencanakan menaikkan produksi, jadi bisa dibilang supply untuk 1-2 tahun ke depan akan jauh lebih banyak daripada sekarang.

Ada juga faktor profit taking yang dilakukan spekulan emas. Kenaikan yang terlalu cepat rawan profit taking. Untuk sementara mungkin tidak akan terjadi profit taking karena pilihan investasi yang lain kurang menjanjikan (property mungkin pelaku pasar masih trauma dengan subprime mortgage, begitu pula dengan saham ada yang bilang ekonomi belum recover kok saham naik terus, USD apalagi sekarang lagi downtrend). Tapi begitu pemulihan ekonomi mendapatkan momentum bukan tidak mungkin mereka akan mengalihkan portfolio mereka ke instrumen lain.

Kesimpulan: prediksi saya emas akan naik jangka pendek – menengah. Apabila kenaikan terlalu tajam, misalnya menyentuh $1500 pada akhir tahun, bukan tidak mungkin akan kembali jatuh ke $1100 dalam waktu dekat, atau bahkan ke $800 ketika terjadi panik.

Tentang Kartu Kredit

November 7th, 2009

Sekarang ini kartu kredit dari berbagai bank gencar sekali dipasarkan entah dengan direct marketing atau dengan promo2 diskon yang gila2an. Saya sempat heran apa mereka ini bisa cuan kalau memberikan promo diskon sampai 50% – itu kan biayanya besar sekali. Tapi menurut teman saya 90% pengguna kartu kredit di indonesia tidak membayar tepat waktu, alias kena bunga & denda!! Ini tidak pernah terpikirkan oleh saya, karena saya selalu membayar tepat waktu & tidak pernah kena denda. Memang saya tahu bahwa provider kartu kredit mengenakan beban sekitar 2-4% kepada merchant2 mereka, tapi saya tidak pernah membayangkan bahwa income dari denda & bunga atas keterlambatan pembayaran juga tidak kalah besar, atau bahkan lebih besar. Sebagai pembanding rata2 kartu kredit dikenakan bunga sebesar 5-8% per bulan dari sisa saldo yang masih belum terbayar masih ditambah biaya2 apabila tagihan tidak dibayar lunas. Kalau di rata2 6% saja, berarti bunga per tahun adalah 12 x 6% = 72% !!! Dengan asumsi bahwa 90% pengguna kartu kredit menunggak tagihan bisa dibayangkan berapa income dari penyedia jasa, jauh melebihi return dari penyaluran kredit usaha yang bunganya berkisar di angka 15-20% per tahun.

Asumsi2 di atas masih belum ditambah lagi biaya2 ’siluman’ yang dibebankan penyedia jasa kepada konsumen. Kebetulan istri saya termasuk pengguna kartu kredit yang tidak terlalu teliti (maklum seringkali saya yang bayar), suatu saat ada tagihan sebesar 11 juta rupiah yang belum terbayar, ketika pihak bank menelpon istri saya bertanya berapa total yg harus dibayar beserta denda & bunga, dijawab pokok ditambah sekitar Rp 600 ribuan denda & bunga. Saya sempat terpikir… wah mahal sekali, tapi daripada ribut & terus dikenakan bunga saya bayar semuanya hari itu juga. Ternyata sebulan kemudian walaupun tidak ada penggunaan sama sekali, kartu kredit istri saya dibebani lagi tagihan sebesar rp300ribu lebih. Ini jelas pernyataan perang!! Wong utang sudah dibayar kok bunga jalan terus. Setelah telpon customer service dijelaskan bahwa bank baru menerima pembayaran 2 hari setelah saya lakukan pembayaran & itu adalah biaya yang harus dibayar. Waktu saya tanya perhitungan-nya dijawab: “itu semua ada perhitungannya pak.” Lalu saya berargumen “bulan lalu terlambat satu bulan lebih denda & bunga hanya 700 ribu, ini terlambat 2 hari itupun bukan kesalahan saya, kenapa bisa dibebani 300 ribu lebih??”. Dengan logika yang simpel saja kalau 600 ribu dibagi 30 ketemunya 20 ribuan, kalau terlambat 2-3 hari mestinya tidak lebih dari 70 ribu dendanya. Terlebih dari itu istri sudah pernah bertanya sebelumnya: “berapa total yang mesti dibayar hari ini juga supaya tidak ada denda & bunga” – setelah diberi angka, itulah angka acuan. Singkat cerita kami ditawarkan ‘diskon’ 50% dari denda tersebut, yang langsung saya tolak mentah2, saya bilang seharusnya tidak ada denda, kalaupun ada tidak sebesar itu & saya tanyakan kepada customer service supaya menjelaskan kepada saya bagaimana perhitungan denda & bunga tersebut… yang ternyata ‘beliau’ sendiri juga kebingungan menjelaskannya. Pendeknya setelah perdebatan sengit semua beban biaya tersebut dihapus. Sungguh menakjubkan!! saya jadi berpikir, kalau saya malas mengurus semua ini… mereka dapat biaya ’siluman’ yang tidak jelas perhitungannya. Dan saya yakin dari sekian banyak pengguna kartu kredit pasti ada yang daripada ribut lebih baik bayar. Kalau jumlahnya dikumpulkan bisa fantastis angka yang didapat. Dalam cerita ini nama bank sengaja tidak saya sebut karena masalah berakhir dengan baik. Sekalian saya memberi tips kalau teman2 ada yang mengalami seperti ini, jangan ragu untuk komplain!! Bisa dibilang mereka sengaja coba2 membebankan biaya siluman kepada konsumen, kalau kita complain biaya dihapus, kalau tidak complain mereka ketawa2 senang menertawakan kebodohan kita.

Saya yakin cerita2 seperti di atas banyak terjadi. Namun di sisi lain banyak pula terjadi pengguna kartu kredit gagal bayar & dikarenakan bunga yang bisa sampai 72% (dengan asumsi bukan bunga berbunga, kalau dihitung composite mungkin angkanya lebih dari 80%) mereka sampai pada tahap kalau mau melunasi pun tidak punya uang. Begitu pula ada oknum2 yang sengaja membuat begitu banyak kartu kredit dengan niat jahat mengemplang hutang, maka penyedia jasa sangat ber hati2 dalam menerbitkan kartu2 baru. Belum lagi banyaknya kasus pemalsuan kartu kredit. Yang saya tahu, cukup dengan magnetic recorder & mengetahui detail fisik kartu anda, pelaku bisa dengan mudah menggandakan kartu anda. Namun kerugian dari kasus2 ini masih jauh lebih kecil dibanding pendapatan dari merchant, denda & bunga.

Bagaimana efek sosial dari kartu kredit? Jelas ini akan membuat masyarakat kita semakin konsumtif, keberadaan kartu kredit memungkinkan pengguna untuk belanja meskipun saldo di bank mendekati nol. Efek yang lain, tidak semua pengguna kartu paham betul akan denda, bunga & biaya yang bisa dibebankan kepada mereka. Efek yang lain ini akan memperparah kesenjangan sosial. Seperti kita tahu semakin tinggi tingkatan kartu kredit (silver, gold, platinum, dsb) semakin banyak pula promo diskon yang ditawarkan, padahal bisa dibilang pemegang kartu kredit dengan nilai pagu tinggi adalah orang2 berduit & mereka ini jarang terkena denda / bunga, karena selalu bisa membayar. Yang terjadi mereka bisa menikmati promo2 diskon yang dibiayai dari denda / bunga pengguna kartu kredit lainnya yang umumnya adalah mereka yang tidak mampu melunasi hutangnya. Mungkin sudah saatnya pemerintah turun tangan meregulasi bisnis ini, dengan bunga yang mencekik & biaya2 yang tidak jelas perhitungannya kartu kredit seolah menjadi lintah darat modern.

Semua investor cuan!! …mungkinkah?

October 30th, 2009

Jawaban dari pertanyaan tersebut tergantung dari definisi ‘cuan’. Kalau cuan dalam arti uang cashnya bertambah, jelas tidak mungkin. Tapi kalau cuan dalam arti nilai aset / nilai buku bertambah, sangat mungkin!! Begini ilustrasinya:

Taruhlah ada 3 orang investor A, B, dan C. Pada mulanya A memiliki 10 lot saham (S) senilai 5 juta rupiah dan uang cash 5 juta rupiah. Investor B dan C masing2 memiliki cash 10 juta rupiah. 

A menawarkan sahamnya & kemudian dibeli B seharga 6 juta rupiah. Di sini A memiliki cash 11 juta rupiah. B memiliki saham senilai 6 juta rupiah dan cash 4 juta rupiah. Kondisi C tetap.

Besoknya B menawarkan sahamnya & dibeli C seharga 7 juta rupiah. Kondisi A tetap, B memiliki cash senilai 11 juta rupiah, sedangkan C memiliki cash 3 juta rupiah dan saham senilai 7 juta rupiah.

Selang beberapa waktu C menawarkan saham yang sama dan dibeli oleh A di harga 8 juta rupiah. Hasilnya A memiliki cash senilai 3 juta rupiah dan saham senilai 8 juta rupiah. Kondisi B tetap – cash 11 juta rupiah. C sekarang memiliki cash senilai 11 juta rupiah.

Hasil akhir dari simulasi ini masing2 investor A, B dan C memiliki aset senilai 11 juta rupiah. Semuanya cuan!! fantastastis sekali. Tapi kalau anda teliti cuan ini cuman nilai di atas buku saja. Dalam tiap tahap di atas jumlah uang yang beredar tetap, yaitu 25 juta rupiah… silakan hitung kalau tidak percaya. 

Bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya, harga saham turun? Sama persis seperti di atas bedanya harga saham turun, nilai buku masing2 investor turun juga. TAPI jumlah cash tetap sama. Kalau tidak percaya silakan lakukan simulasi step-by-step di atas.

Lalu cuan yang sesungguhnya itu datang dari mana? Kalau semua seperti di atas bukankah cuman uang dari kantong kiri masuk ke kantong kanan? Tentu tidak… Saya sering ngomong (dan tidak kalah sering dicuekin) bahwa cuan sesungguhnya adalah dari dividen. Ada sisi lain juga, yaitu laba ditahan yang akhirnya dijadikan aset oleh persh, seharusnya ini bisa mengangkat nilai saham persh itu. Misal persh perkebunan labanya dibelikan cadangan lahan baru utk perluasan, mestinya produksi di masa depan akan meningkat. Kalau produksi meningkat, laba meningkat, dividen meningkat juga. Namun ada persh2 yang cuman main2 angka di atas kertas saja, bilang beli ini lah itu lah… laba dikerek naik, pemegang saham diberi informasi tentang laba ditahan (yang ditahan terus… dan terus… dan mungkin seterusnya), sementara dividen tidak dibagikan, atau dibagikan sangat sedikit dibanding laba yang didapat di atas buku. Kalau saya, saham seperti ini mending jangan untuk long term. Investor perlu bukti bukan janji, dan bukti yang paling sahih adalah adanya pembayaran ke rekening kita dari persh sebagai bentuk realisasi profit persh.