Financial Planner

Financial Planner

Kapan kita berhenti untuk belajar? Ketika dunia berhenti berkembang dan teknologi tidak lagi mengalami kemajuan, atau ketika kebudayaan berhenti menjadi lebih baik dan tetap diam dimana budaya kita ada sekarang. Dengan kata lain, kita boleh berhenti belajar bila tidak ada lagi perubahan jaman. Selama dunia masih bergerak dan berubah, kita tidak boleh berhenti belajar.

Mengapa demikian? Tujuan kita belajar adalah untuk memahami apa yang akan kita hadapi dalam hidup ini, sehingga kita dapat menghadapi tantangan dan kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin. Bila budaya dan kondisi dunia yang kita tempati sekarang cenderung tetap, maka kita tidak perlu banyak belajar mengenai berbagai hal yang baru. Cukup dengan menghafal apa yang terjadi di masa lalu, kita dapat mengantisipasi masalah yang akan terjadi. Namun sayangnya keadaan yang kita hadapi tidak seperti itu.

Bumi yang kita tinggali sekarang, penuh dengan perubahan dan kemajuan teknologi yang tidak terelakan. Meskipun tinggal di pedalaman, pasti lama-kelamaan akan kerasa dampaknya. Bahkan, perubahan yang terjadi, selalu mengarah pada kemajuan kebudayaan yang semakin baik. Hal ini berdampak luar biasa pada proses belajar kita. Kita dulu mungkin hanya belajar menulis, sekarang harus mampu mengetik di Komputer. Dulunya hanya perlu menulis surat dan menelpon lewat telpon umum, sekarang harus belajar menggunakan Internet dan email serta HandPhone. Kita harus terus belajar, karena kita hidup dalam dunia yang berkembang. Sehingga ilmu yang telah kita pelajari tidak akan pernah cukup.

Ada 2 hal internal yang mempengaruhi proses belajar seseorang. Kemampuan untuk belajar, dan kemauan untuk belajar. Kemampuan untuk belajar mencakup daya tangkap dan daya ingat seseorang. Hal ini tergantung dari IQ yang dimiliki seseorang. Kemampuan belajar tiap-tiap orang sangat beragam. Ada yang cepat tanggap dan mudah mengingat, namun ada juga yang baru mengerti suatu hal setelah dijelaskan berulang-ulang (lemot). Hal ini dinilai diluar kekuasaan kita untuk mengendalikannya. Setiap orang mungkin ingin terlahir dengan memiliki IQ (kecerdasan intelektual) yang tinggi, namun hanya sebagian kecil yang mendapat anugerah tersebut.

Hal yang lain adalah Kemauan seseorang untuk belajar. Hal ini mencakup motivasi dan tujuan yang hendak dicapai dari Proses Belajar yang dilakukan. Aspek ini, jauh lebih dapat dikendalikan daripada aspek yang pertama (kemampuan belajar). Kita dapat meningkatkan kemauan kita untuk belajar. Dengan menyadari pentingnya ”Belajar” dalam kehidupan kita, dengan sendirinya kita akan termotivasi untuk belajar. Bila kita sudah termotivasi, maka belajar akan terasa menyenangkan. Belajar tidak lagi menjadi beban, karena kita sudah menyukainya.

Apa saja keuntungan dari ”belajar” atau mempunyai kemampuan dan kemauan Belajar yang baik? Buat saya pribadi, bisa jadi apa saja yang saya inginkan, dan mendapat segala hal yang saya butuhkan. Karena dengan kemampuan/kemauan belajar, kita dapat mempelajari hampir semua hal. Dengan begitu, kita dapat melakukan dan ahli dalam berbagai hal yang kita pelajari. Maksud saya dengan ”belajar” bukan hanya menguasai pengetahuan dan teori tertentu, apalagi mengenai belajar untuk bisa lulus ujian sekolah atau tes pegawai. Belajar yang dimaksud disini adalah menguasai keahlian tertentu, dan melakukannya dengan baik. Merencanakan anggaran bulanan, memainkan alat musik, dance, manajemen-waktu, bahkan memimpin perusahaan, dapat kita pelajari. Namun dalam hal ini, kemampuan yang ingin kita pelajari adalah Finansial Planner dan hal-hal lain yang mendukung.

Jadi walau relatif sulit meningkatkan kemampuan belajar kita, kita dapat meningkatkan kemauan kita untuk belajar.

Sharpen the saw

Evaluasi merupakan suatu proses mempelajari, menilai/membandingkan, dan menemukan cara memperbaiki suatu ”pekerjaan”. Ketika kita mengerjakan sesuatu, belum tentu kita telah melakukannya dengan baik dan benar. Kita perlu mempelajari cara/proses kita dalam melakukan ”pekerjaan” tersebut. Bagaimana kita menyelesaikan pekerjaan itu. Apa saja yang telah kita lakukan dalam usaha menyelesaikan pekerjaan kita. Selanjutnya kita harus menilai ”proses” kita menyelesaikan pekerjaan kita. Apakah ada orang lain yang melakukan usaha yang sama dengan kita? Bagaimana cara orang itu menyelesaikan ”pekerjaan”nya? Bagaimana dengan hasil dari ”pekerjaan” kita? Apakah hasilnya memenuhi kriteria yang kita inginkan? Apakah kita seharusnya bisa melakukannya dengan lebih baik lagi, atau itu sudah merupakan usaha maksimal kita? Yang terakhir yang perlu kita tahu adalah cara untuk meningkatkan hasil kerja kita. Adakah cara lain yang dapat kita tempuh untuk mendapat hasil yang lebih lagi? Dapatkah kita berusaha lebih keras atau bekerja lebih cerdik lagi dari ini?

Dalam upaya menyusun Anggaran Keuangan (bulanan) misalnya, kita harus berupaya untuk menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran. Bila perlu, kita berusaha sehingga pemasukan kita jauh melebihi pengeluaran kita. Bila bulan lalu kita keuangan kita defisit dan terpaksa berhutang pada orang lain, maka selayaknya kita mesti melakukan evaluasi terhadap anggaran dan eksekusi kebijakan keuangan kita. Bagaimana cara kita menyusun anggaran keuangan kita? Rencana pemasukan dan pengeluaran kita buat berdasarkan apa? Apakah rencana pengeluaran kita sudah detail?

Bagaimana dengan realisasi/aplikasi Anggaran yang sudah kita susun? Apakah sudah sesuai atau meleset? Kalau meleset, seberapa jauh melesetnya? Berapa persen kelebihan realisasi pengeluaran kita dibandingkan anggaran yang kita susun? Apakah pengeluaran kita yang memang sebesar itu adalah wajar dan ternyata kita salah mengestimasi pengeluaran kita, ataukah kita terlalu pelit dalam menyusun anggaran sehingga perencanaan pengeluaran kita menjadi tidak realistis? Bagaimana dengan orang lain yang juga merencanakan/menganggarkan keuangannya? Apakah mereka juga mengalami pembengkakan pengeluaran bila dibandingkan anggaran yang mereka susun? seberapa besar kelebihan pengeluaran yang mereka alami? Apakah lebih besar dari ”kelebihan” pengeluaran kita?

Langkah yang terakhir dari mengevaluasi Manajemen Keuangan kita ialah mencari alternativ dalam menyelaraskan anggaran yang kita buat denga pengeluaran kita yang terjadi. Bila kita merasa rencana anggaran kita sebelumnya kurang realistis, kita bisa menambah anggaran pengeluaran kita. Atau sebaliknya, bila kita menilai bahwa pengeluaran kita yang terlampau keterlalauan, kita harus mengontrol pengeluaran kita agar lebih sesuai dengan anggaran yang kita susun.

Rahasia kesuksesan bukan hanya terletak pada seberapa hebat rencana kita, tapi juga dipengaruhi seberapa baik kita mengevaluasi kinerja kita. Apakah kita bersedia memperbaiki rencana terbaik kita supaya menjadikannya lebih baik lagi? Memang terdengan merepotkan. Namun bila saya mempunyai waktu 2 jam untuk menebang sebuah pohon, saya akan menghabiskan 90 menit untuk mengasah Gergajinya.

Ketekunan adalah aplikasi nyata dari Komitmen. Bila komitmen adalah janjinya, maka Ketekunan adalah usaha mewujudkan janji tersebut. Bila Komitmen adalah hasratnya, maka Ketekunan adalah aplikasinya. Komitmen adalah abstrak, sedangkan ketekunan adalah wujud konkrit yang merupakan tindakan kita.

Ketekunan adalah usaha yang terus-menerus dilakukan dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Misalnya ketika kita pertama kali merencanakan anggaran keuangan kita, pengeluaran yang terjadi jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Kemudian kita membuat lagi anggaran dengan mempertimbangkan pengeluaran bulan lalu. Tapi kali ini, terjadi hal di luar dugaan yang membutuhkan pengeluaran yang besar. Akhirnya untuk kedua kalinya, kita gagal menyesuaikan anggaran kita dengan biaya sebenarnya yang kita keluarkan. Apakah kemudian kita akan memutuskan untuk berhenti melakukan penganggaran keuangan, dan membiarkan pengeluaran kita menjadi tidak terkendali? Toh sama saja hasilnya bila kita melakukan penganggaran pada awal bulan pun, kita tetap mengeluarkan biaya yang (jauh) lebih besar dari pada anggaran yang kita siapkan. Malah terkesan kita menyususn rencana, membuang waktu, pikiran, dan tenaga, namun sepertinya tidak berpengaruh terhadap target Pengeluaran maximal kita. Pada situasi seperti inilah, karakter KETEKUNAN kita diuji. Apakah kita akan terus melakukan usaha yang kelihatannya tidak berhasil, ataukah memilih untuk berhenti dari kegiatan yang sia-sia ini.

Pada kesempatan yang lain, kita mendapat kesempatan untuk menunjukan kemampuan kita terhadap perusahaan. Kita mungkin diminta membuat presentasi/proyek tertentu yang mengakibatkan kita harus lembur (kerja di rumah). Tapi kita tidak mengeluh sekalipun tidak dihitung waktu lembur, karena kita yakin perusahaan akan menghargai jasa kita dengan cara yang berbeda. Mungkin kita akan dipromosi atau lama-kelamaan dinaikan gajinya, atau jasa kita akan dihargai dalam bentuk-bentuk penghargaan yang lain.             Beberapa kali lembur tidak menjadi masalah. Namun bagaimana kalau kita terus-menerus diminta untuk mengerjakan proyek-proyek yang lain lagi. Pada satu sisi, kita merasa dihargai karena diberi kepercayaan untuk terus melakukan pekerjaan yang lebih banyak. Namun di sisi lain, bentuk penghargaan yang lainnya tidak kunjung datang. Tidak ada kenaikan gaji, promosi, atau penghargaan secara langsung. Apakah kita akan menyerah dan menolak tawaran ”proyek” yang berikutnya?

Banyak lagi peristiwa yang akan kita alami dalam hidup ini, yang membuat kita harus memilih untuk tetap setia mengerjakan hal yang kita yakini benar/baik walau tidak/belum kelihatan hasilnya bagi kita. Apakah kita mau tetap menyusun rencana keuangan bulanan, walaupun sangat sulit untuk menjaganya sesuai anggaran yang kita sepakati? Bila usaha/kerja keras kita seperti tidak dihargai perusahaan, akankah kita berhenti memberikan yang terbaik? Bila kita terus menasihati sahabat kita untuk KULIAH dengan benar (tidak main-main) dan ia tidak mau mendengar kita, akankah kita terus menasihati dia? Akankah kita bertahan melakukan usaha yang sepertinya tidak menghasilkan apa-apa?

Ketika kita melakukan sesuatu yang baru dan gagal dalam prosesnya, mungkin itu karena kita belum pernah mencoba melakukannya sebelumnya. Kalau begitu kenyataannya, berarti kita kurang pengalaman. Jangan menyerah. Bila kita yakin apa yang kita buat itu baik dan bermanfaat, sekalipun belum ada pujian dari orang lain mengenai usaha kita, jangan berhenti berusaha. Pada awalnya, kita akan kesulitan untuk melakukan sesuatu yang baru. Tapi lama-kelamaan kita akan banyak belajar dari kegagalan kita. Bila kita tidak pernah gagal, maka kita tidak akan pernah belajar. Tapi bagaimana kita bisa cukup belajar bila kita hanya sekali mencoba?

Tidak ada usaha yang sia-sia. Bila perusahaan tidak menghargai kerja-keras kita dalam bentuk yang nyata (gaji atau proosi), kita toh mengalami peningkatan skill dan belajar banyak dari ”proyek” yang ditugaskan bagi kita. Bahkan kita seharusnya membuat Perusahaan ”tergantung” dengan kemampuan/keahlian kita. Buat diri kita seberguna mungkin, sehingga perusahaan tidak mempunyai pilihan lain, selain memberi promosi. Ketekunan kita sendiri, pasti akan dilihat oleh pihak lain, bila kita tidak dihargai di tempat kita bekerja sekarang. Ada teman saya yang berkata seperti ini: Jadilah emas, dimanapun kau berada. Karena walau berada di dalam Penjara sekalipun, atau di Tempat Sampah, EMAS tetap akan dicari orang. Karena nilai EMAS tidak akan dipengaruhi kondisi tempat dimana dia berada. Buktikan bahwa kita berharga dan dibutuhkan oleh perusahaan.

Bahkan Thomas Alva Edisson berulang kali gagal sebelum ia menemukan bola-lampu.

Menumbuhkan KOMITMEN

Cara untuk menumbuhkan sikap/mentalitas Berkomitmen, adalah yang pertama-tama mengerti apa itu Komitmen dan Pengaruhnya (untung-ruginya) bagi kita. Penjelasan mengenai komitmen bisa dilihat di atas.

Keuntungan kita memiliki sikap yang penuh komitmen antara lain:

  1. Kita tidak mudah terpengaruh dengan kondisi di sekitar kita. Kalaupun kita mengubah pikiran dan target kita, itu semua dengan pertimbangan yang matang.
  2. Lebih mudah dipercayai oleh orang lain. Karena kita mengerjakan apa yang kita janjikan. Paling tidak, kita berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai janji kita kepada diri sendiri. Bila kita tidak dapat memenuhi janji kita pada diri sendiri, bagaimana mungkin kita akan menepati janji kita pada orang lain?
  3. Kita akan lebih puas dengan diri kita sendiri, karena tidak menurunkan standart pencapaian tujuan kita.

Dengan mengerti pentingnya komitmen dalam hidup kita – khususnya dalam mencapai tujuan Finansial kita – kita secara sadar/tidak-sadar meyakini bahwa berkomitmen itu penting. Ketika saya menyebutkan kata ”microchip-RFID” dan hendak memberikan satu untuk anda, mungkin anda tidak akan tertarik dengan penawaran saya. Tapi ketika anda tahu kalau benda itu merupakan barang elektronik yang mahal, anda pasti akan berubah pikiran. Demikian halnya dengan mobil ”Jaguar”. Bila anda belum pernah mengetahui keistimewaannya, anda belum tentu akan sangat menginginkannya (walaupun akan sangat sulit direalisasi – hehehe..). Ketika dokter menyuruh kita mengikuti pola-hidup sehat yang melingkupi makanan bergizi dan istirahat cukup, kita pasti akan mengeluh. Tapi ketika sudah berusia diatas 40an, kita akan menyesali sikap kita yang mengacuhkan anjuran dokter kita. Karena setelah 40an, kita akan mengalami gangguan kesehatan karena ”pola-hidup tidak sehat” yang kita jalani dan menyadari pentingnya pola-hidup sehat.

Langkah berikutnya adalah mulai dengan hal-hal yang kecil dan sederhana. Misalnya, sebelum berkomitmen untuk menabung 9juta dalam waktu 3 tahun, mungkin kita bisa melatih diri kita dengan Komitmen untuk menabung 750ribu dalam kurun waktu 3 bulan. Atau dengan kata lain, memulai sebuah perjalanan yang jauh dengan 1 langkah kecil. Kesulitan yang pertama kali kita kita temui dalam setiap usaha kita ialah ”memulainya”. Rencana selalu terdengar baik dan mudah sehingga tiba waktu untuk menjalankannya. Ketika kecil, saya senang bermain ketika hujan. Senang rasanya menikmati jatuhnya butir-butir hujan tersebut. Namun ketika setiap butir tersebut terkumpul cukup banyak, maka akan mampu menjebol sebuah bendungan. Setiap peristiwa besar, selalu dimulai dengan langkah yang sederhana.

Selanjutnya adalah dengan setia melakukan langkah-langkah kecil tersebut. Namun akan ada banyak tantangan yang memaksa kita untuk berhenti melakukannya. Setiap tantangan itu adalah ujian untuk menjadi lebih dekat dengan tujuan kita. Bila kita tetap dapat menabung dalam keadaan yang sulit (secara finansial), terlebih lagi dalam situasi finansial yang mulai membaik. Ketika kita tetap dapat menyisihkan 10% penghasilan kita untuk ditabung ketika pada periode-anggaran yang sama kita membantu saudara kita yang masuk rumah sakit, apalagi dalam periode yang tidak ada tambahan pengeluaran. Kita (logikanya) seharusnya lebih mampu lagi menyisihkan uang untuk ditabung.

Ketika kita melakukan komitmen yang kecil sebenarnya itu merupakan perwujudan dari Komitmen yang lebih besar. Ketika kita tiap bulan setia menabung 250ribu, berarti dalam 3 tahun kita akan mengumpulkan 9juta. Bilamana kita tidak setia dalam menyisihkan 250ribu tiap bulannya, berarti sangat sulit untuk memenuhi target kita menabung 9juta dalam 3 tahun.

Menjalankan komitmen yang sederhana juga merupakan suatu proses untuk membentuk kebiasaan yang disengaja. Bahkan ada yang setuju bahwa Latihan akan membawa pada Kesempurnaan. Pada awalnya mungkin terasa sulit menyisihkan 250ribu tiap bulannya. Apalagi bila kita baru belajar untuk mengatur keuangan kita sendiri. Namun seiring berjalannya waktu dan usaha untuk menabung yang dilakukan terus-menerus, kita akan semakin baik dan mudah untuk menabung.

Tapi menabung adalah salah satu contoh yang kecil. Banyak komitmen yang Besar, dapat direalisasikan dengan setia melakukan hal-hal yang sederhana. Misalnya kita dapat menjadi seorang ahli Perencana Keuangan, dengan selalu membaca 1 buku tiap pekan. Kemudian mencoba membuat Rencana Keuangan dari sebuah situasi tertentu. Mula-mula situasi yang sederhana, tapi kemudian meningkat merencanakan situasi yang lebih kompleks.

Untuk membeli suatu barang yang melampaui uang tunai kita, mungkin kita perlu membayarnya secara kredit. Biasanya yang paling besar jumlahnya adalah uang muka. Sesuatu yang dimulai, pada awalnya akan sangat sulit dilakukan. Tapi setelah melakukannya sekali, kesempatan berikutnya akan jauh lebih mudah untuk dilakukan.

Komitmen merupakan janji untuk melakukan sesuatu hal pada masa yang akan datang, yang dibuat dengan pertimbangan yang matang, dengan merencanakan keadaan/kemampuan masa kini disertai pemikiran akan keadaan masa depan. Dalam membuat komitmen dibutuhkan bukan hanya perencanaan namun juga keberanian. Karena kita harus menghadapi apapun konsekuensi yang akan terjadi karena usaha mewujudkan komitmen kita. Terkadang walau kita sudah berusaha memperkirakan apa yang akan terjadi, namun ada saja kemungkinan untuk terjadi hal-hal yang menghambat kita memenuhi komitmen kita. Komitmen lebih merupakan tanggung-jawab terhadap diri sendiri, dari pada terhadap orang lain.

Ketika kita memutuskan untuk menikah misalnya, kita berkomitmen untuk setia dengan janji pernikahan kita. Kita akan berusaha menjalani kehidupan bersama dengan pasangan kita, baik senang maupun susah keadaannya. Kita tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin saja kita akan bertemu orang yang kita nilai lebih baik dari suami/istri kita. Tapi karena komitmen dengan Janji Pernikahan kita, tidak mungkin akan menindaklanjuti perasaan kita tersebut. Kita tidak mungkin lagi mencoba untuk berkencan dengan orang lain. Namun orang yang tidak berkomitmen akan mudah untuk tertarik pada orang lain dan sangat mungkin akan selingkuh terhadap pasangannya. Bila kita melanggar komitmen kita terhadap pasangan kita, maka kehidupan rumahtangga kita terancam hancur. Pasangan kita tentu tidak mau diduakan.

Contoh yang lain adalah bila kita mengkredit rumah atau barang lainnya. Kita mengikat perjanjian dengan pihak lain (penjual) untuk membayar cicilan beserta bunganya tiap bulan/tahun, sesuai kesepakatan. Kita sudah mengalokasikan sejumlah uang dari penghasilan kita untuk membayar angsurannya. Bila kita tidak membayar angsurannya (komitmen kita), maka ada penalti/risiko yang harus kita terima. Kita bisa dikenakan denda karena telat membayar, atau bila terus-menerus menunda pembayaran maka kita harus keluar dari rumah tersebut. Dalam hal ini, komitmen memiliki konsekuensi yang berat dan sangat nyata bila dilanggar. Namun intinya adalah, dengan melanggar komitmen (ansuran rumah) kita, maka kita tidak dapatmemiliki rumah tersebut. Selain itu juga, uang yang sudah kita bayarkan pada cicilan sebelumnya akan ”hangus”.

Dalam perjalanan mencapai Tujuan Finansial kita, akan muncul banyak hal yang menghalangi kita. Ada hal-hal yang sudah kita perkirakan sebelumnya, namun ada juga yang muncul tidak terduga. Bila kita sudah menduga akan adanya hal-hal yang menghalangi kita, tentu akan mudah untuk menanganinya. Bahkan mungkin kita sudah merencanakan cara antisipasi tantangan (yang sudah kita perkirakan) tersebut. Bila kita akan menikah, maka kita pasti mengantisipasi kehadiran seorang anak dalam kehidupan keluarga baru kita. Perawatan sang Ibu dan Janin, biaya bersalin dan perawatan setelahnya, dan banyak lagi pengeluaran karena kehadiran bayi dalam hidup kita. Bila kita memang sudah tahu akan adanya tantangan ini, maka kita pasti sudah mengalokasikan tabungan yang cukup untuk kebutuhan ini. Sehingga kita tidak kewalahan menghadapi masalah ini.

Namun bagaimana bila terjadi hal yang diluar dugaan kita? Misalnya saudara kita masuk Rumah Sakit, dan (sebagai saudara yang baik T.T ) kita turut menyumbang untuk biaya rumah sakitnya. Otomatis kita akan menciptakan biaya yang baru, yang tidak kita perhitungkan sebelumnya. Apakah kita akan tetap berKomitmen untuk mencapai tujuan finansial kita sesuai waktu yang kita sepakati sendiri? Ataukah kita menjadikan hal ini sebagai alasan untuk mengendurkan target kita?

Ada dua hal yang mempengaruhi pengambilan keputusan ini. Yang pertama adalah besarnya pengeluaran yang tidak terduga tersebut. Atau berapa besar kerugian yang kita pikul akibat situasi yang tak terduga ini? Apakah pengeluaran/kerugian ini dapat kita tanggung dengan mengurangi pengeluaran lainnya yag tidak perlu? Mungkin dengan mengurangi jatah jalan-jalan kita, kita dapat membiayai pengeluaran tak-terduga tersebut. Namun sekarang yang menjadi masalah ialah: apakah kita bersedia tidak jalan-jalan selama beberapa pekan? Atau kita bisa menggantinya dengan kegiatan lain yang tidak mengeluarkan biaya. Misalnya lari pagi atau jalan-pagi. (mulai mokso neh..). Bagaimana kalau menonton TV di rumah saja.

Hal yang kedua yang menjadi pertimbangan kita adalah apakah kita dapat mengusahakan untuk meningkatkan penghasilan kita demi memenuhi kebutuhan tak terduga kita? Mungkin kita dapat meminta sumbangan dari saudara-saudara yang lain (lebih banyak orang). Atau kita dapat bekerja lembur beberapa minggu untuk mengganti pengeluaran tersebut.

Kesediaan kita untuk mengorbankan hal-hal yang kita inginkan (jalan-jalan / rekreasi) atau menerima pekerjaan yang lebih guna mendapat tambahan penghasilan, merupakan bentuk Komitmen kita.

Bagaimana membentuk Karakter kita.

Karakter dibentuk dengan kebiasaan. Kebiasaan dapat dipelajari dengan pola-pikir yang tepat. Pola pikir yang tepat bisa dibentuk dengan 2 cara: Membaca buku dan Pergaulan.

Dari ide-ide yang kita dengar (secara terus-menerus) akan membentuk pola-pikir kita. Ide-ide itu bisa kita dapatkan dengan berbagai cara: Membaca buku, bergaul/berinteraksi dengan orang yang tepat, maupun dengan menghadiri seminar-seminar yang membangun. Pola-pikir adalah cara/jalan pikiran kita ketika menanggapi suatu masalah. Pola-pikir merupakan gabungan dari prinsip-prinsip yang kita yakini dan kita terapkan dalam kehidupan kita. Jadi bila kita terus membaca artikel-artikel yang menekankan pada suatu ide yang sama, secara tidak sadar kita akan mulai mempertimbangkan hal itu sebagai kebenaran. Bahkan mungkin kita sudah menjadikan ide tersebut sebagai prinsip dalam hidup kita (ini merupakan salah satu alasan mengapa kita terus membaca hal-hal yang membahas ide yang serupa).

Dari pola pikir, secara langsung kita akan menerapkan ide-ide tersebut dalam kehidupan kita. Misalnya sewaktu kecil kita selalu diberitahu bahwa berbohong itu tidak baik, maka secara tidak sadar kita akan berusaha untuk tidak berbohong karena percaya bahwa hal itu tidak baik. Tindakan dan keputusan kita adalah hasil dari pemikiran kita. Kita memilih untuk menabung atau menghabiskan seluruh penghasilan kita, itu adalah hasil dari pertimbangan kita. Pertimbangan kita tergantung dari prinsip apa yang kita percayai. Bila kita percaya bahwa menabung akan mendatangkan keuntungan, maka kita pasti akan berusaha menyisihkan sebagian dari pendapatan kita.

Tindakan-tindakan kita yang sama dan dilakukan terus-menerus akan membentuk kebiasaan. Ketika kita sudah memiliki kebiasaan untuk berbuat baik, maka kita akan terus melakukan hal-hal yang baik tanpa perlu dorongan dari luar atau paksaan/dikondisikan. Bila kita terbiasa mencatat semua pengeluaran kita, maka setiap kali kita mengeluarkan uang kita akan berusaha sedapat mungkin mencatatnya. Kebiasaan membuat kita mengingat hal tersebut secara tidak sadar, tidak perlu mengingatkan pada diri-sendiri pentingnya melakukan tindakan tersebut, kita tidak lagi merasa hal itu sebagai suatu pekerjaan tambahan, tidak lagi kita anggap sebagai beban. Bahkan hal yang sulit sekalipun, akan menjadi mudah bila kita sudah terbiasa melakukannya.

Definisi Karakter.

KARAKTER adalah siapa kita, gabungan dari sifat, kebiasaan, dan hasrat kita. Arogan, periang, tekun, dan lainya merupakan contoh Karakter. Karakter kita tidak dapat disembunyikan. Kita bisa menyembunyikan sifat asli kita, tapi karakter kita akan tetap terungkap ketika kita mengalami situasi sulit.

Bila kita sedang mendekati orang yang kita sukai, biasanya kita akan berusaha menampilkan yang terbaik dari  diri kita, bahkan terkesan melebihkan apa yang baik dari kita. Kita melakukan hal-hal yang tidak biasanya kita lakukan, sebagai ”promosi” untuk menarik perhatian orang yang kita sukai. Sehingga secara tidak sadar, kita membuat orang yang kita sukai itu berpikir bahwa kita memang seBAIK itu. Hal ini wajar, tapi akan menjadi masalah di kemudian hari. Bila akhirnya kita menikah dengan orang yang kita sukai tersebut, maka masa promosi kita akan berakhir. Kita akhirnya menampilkan karakter kita yang biasanya kepada pasangan kita, sehinga dia merasa ”tertipu” dengan sistim promosi kita.

Bila kita dalam kondisi biasa dan tidak ada masalah, kita sangat bisa berpura-pura dan menampilkan karakter yang bukan karakter kita yang sebenarnya. Namun keadaan krisis dan genting akan memaksa kita menampilkan Karakter asli kita. Pada saat itu, kita akan dapat melihat siapa kita dan apa karakter kita sebenarnya.

Karakter yang penting dalam usaha mencapai Tujuan Finansial kita.

Salah satu karakter yang penting dalam mencapai tujuan Finansial kita adalah KOMITMEN. Bukan hanya dalam mencapai tujuan Finansial, tapi juga dalam memenuhi target hidup kita yang lain. Komitmen adalah kemampuan kita untuk tetap berpegang pada keputusan atau tujuan yang telah kita tetapkan di awal, meskipun timbul masalah dan kesulitan dalam proses pencapaian tujuan tersebut. Komitmen sangat dibutuhkan terutama karena kita hidup di dunia yang penuh dengan tantangan dan kesulitan ini. Terkadang ketika kita mengalami kesulitan dalam usaha mencapai tujuan kita, timbul keinginan untuk mundur dan menurunkan standart. Selain itu, kadang ada hal lain yang dapat membuat kita beralih dari tujuan kita yang semula. Tujuan atau impian yang lain yang biasanya muncul kemudian, dapat membuat kita mengalihkan perhatian kita dari tujuan Finansial kita. Komitmen berfungsi seperti jangkar pada sebuah kapal yang sedang berlabuh, menjaga agar tujuan kita tidak terombang-ambingkan oleh tantangan maupun daya-tarik yang lain.

Hal yang kedua, adalah KETEKUNAN dalam menjalankan strategi yang telah kita susun sebelumnya. Ketika melaksanakan strategi yang kita susun, kita terkadang jenuh dalam melakukannya. Mungkin karena kita tidak merasakan dampaknya secara langsung terhadap keadaan finansial kita, ataupun kita tidak merasakan pengaruh dari strategi yang kita lakukan. Bisa juga kita melakukan semua strategi jangka pendek, tapi tidak ada progress yang kita hasilkan. Strategi yang kita lakukan, tidak berhasil memenuhi target kita. Hal ini membuat kita merasa sia-sia melakukan semua strategi kita. Bila hal-hal ini terjadi, kita perlu tetap tekun mengejakan apa yang telah kita rencanakan. Jangan mudah merasa putus-asa dengan kondisi kita. Setia mengerjakan apa yang kita rencanakan, walau belum memperlihatkan progres yang berarti. Barangkali kita belum terbiasa dengan segala strategi yang kita rencanakan, sehingga kita tidak maksimal dalam melakukannya. Kita perlu bersabar hingga ketekunan kita memperlihatkan hasil. Karena sangat jarang kita melakukan sesuatu yang baru, dan langsung ahli dalam hal itu. Segala-sesuatu membutuhkan progres untuk menjadi lebih baik. Bila usaha kita dan strategi yang kita lakukan tidak maksimal, jangan menyerah untuk memperbaikinya. Ingat bahwa dengan latihan, segala-sesuatu akan menjadi lebih-baik.

 

Karakter berikutnya ialah kebiasaan untuk EVALUASI secara teratur, terhadap perkembangan situasi-kondisi yang mungkin mempengaruhi strategi dan pencapaian tujuan. Evaluasi teratur terhadap pencapaian yang terjadi, apakah pencapaian kita sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Karena banyak hal yang mungkin terjadi, diluar perencanan dan antisipasi kita. Yaitu kondisi yang tidak kita harapkan dan menghambat pencapaian tujuan Finansial kita. Kita mengevaluasi perencanaan kita, supaya tetap realistis dan sesuai dengan keadaan masa kini. Mungkin ada perubahan strategi yang perlu kita lakukan karena situasi yang berubah. Atau strategi yang kita rencanakan tidak lagi cocok dengan kondisi kita sekarang. Apakah ada cara lain yang lebih baik, dalam usaha untuk mencapai tujuan Finansial kita? Apa yang kita pelajari dari pelaksanaan strategi pencapaian tujuan Finansial kita selama ini? Apa ada hal yang perlu kita tambahkan? Ataukah ada strategi yang tidak perlu kita lakukan?

Kebiasaan terakhir adalah HASRAT untuk terus MENGEMBANGKAN DIRI secara konsisten. Walau ini yang terakhir, tapi rasanya ini karakter yang sangat penting. Karena walaupun tidak memiliki Karakter dan Sifat yang diatas, kita dapat mempelajarinya bila memiliki karakter yang terakhir ini. Dengan adanya keinginan untuk terus belajar dan mengembangkan diri, kita akan mampu melakukan hampir apa saja yang kita inginkan. Untuk mencapai tujuan finansial kita, banyak hal yang perlu kita lakukan. Kebanyakan diantaranya tidak pernah kita lakukan sebelumnya. Kita perlu memiliki kebiasaan untuk terus belajar dan bertumbuh, dan tidak boleh pernah merasa cukup dengan apa yang sudah kita miliki. Bukan berarti kita ingin bisa dalam segala hal, tapi kita perlu mengembangkan karakter dan keahlian tertentu yang sangat dibutuhkan dalam mencapai tujuan Finansial kita.

Pertanyaan :

 

Pak, apa saja yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli/kredit sebuah rumah. Bagaimana menilai sebuah kredit rumah yang baik?

Rumahku...

 

Jawab :

 

Hal pertama yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk mengambil kredit rumah, adalah kemampuan finansial kita. Berapa pemasukan rata-rata kita tiap bulannya. Berapa pengeluaran rata-rata kita tiap bulannya. Dan berapa ”saving” yang mampu kita sisihan tiap bulannya. Berapa jumlah tabungan kita di bank sekarang? Apakah Jumlah tabungan kita cukup untuk membeli rumah yang kita inginkan?

Karena jumlah biaya yang dikeluarkan sangat besar, kebanyakan orang memilih untuk Kredit. Atau meminjam uang di bank dan menggunakan uang pinjamannya untuk membeli rumah. Berarti kita menambah jumlah pengeluaran bulanan kita untuk membeli rumah. Hitung cicilan tiap bulannya kemudian tambahkan ke pengeluaran bulanan kita. Apakah total pendapatan kita masih lebih besar dari pengeluaran kita (setelah ditambah biaya cicilan rumah)?

Bila kita masih berencana untuk menambah penghasilan kita (mungkin dengan mencari pekerjaan tambahan atau bisnis sampingan), sebaiknya kita pastikan dulu total penghasilan kita. Jangan membuat anggaran dengan menambahkan penghasilan yang belum tentu akan kita peroleh. Misalnya kiTa berencana menjadi agen asuransi untuk menambah penghasilan. Kita tidak bisa menambah pendapatan kita pada susunan anggaran yang kita buat, karena belum pasti pemasukan yang akan kita terima.

Kita juga perlu menghitung tingkat bunga yang dikenakan pihak pemberi kredit (Bank atau agen penjual rumah) kepada kita, dan membandingkannya dengan tingkat inflasi yang ada. Bila bunga yang diberikan lebih rendah dari inflasi (yang sangat jarang), ambil aja kreditnya (setelah mempertimbangkan kemampuan kita untuk membayar kredit bulanannya). Bila bunga Bank lebih rendah dibandingkan dengan bunga dari Agen perumahannya, pinjam uang dari bank kemudian kita nyicil ke bank.

Memperkirakan harga yang tepat untuk rumah tersebut. Harga rumah dan properti akan semakin mahal bila perekonomian semakin membaik. Berarti ke depannya, harga rumah akan semakin mahal. Kecuali terjadi peristiwa tertentu (seperti bencana Lumpur LAPINDO) yang dapat membuat harga rumah yang akan kita beli menurun drastis. Dengan pertimbangan ini, kita tahu bahwa harga jual kembali rumah kita kemungkinan besar (hampri pasti) akan naik. Walau demikian, kita tetap perlu menanyakan harga rumah yang serupa/mirip di sekitar daerah rumah yang akan kita beli, supaya kita mendapat gambaran harga yang wajar.

Memiliki rumah sendiri, memang akan jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan mengontrak atau tinggal dengan keluarga. Apalagi bila kita sudah berkeluarga, menikah dan punya anak. Namun kita juga perlu berpikir bijaksana dengan memprioritaskan tempat tinggal, dan bukan sekedar kepemilikan atas sebuah rumah. Maksudnya ialah, bila kita tidak mampu membeli rumah (baik secara cash maupun nyicil/kredit), jangan dipaksakan. Takutnya bila kita kita tidak mampu membayar Kreditnya, kita akan kehilangan rumah (yang telah kita bayar walau belum lunas) dan juga rugi sejumlah uang yang telah kita bayarkan sebagai cicilan rumah tersebut. Walaupun ngontrak atau tinggal dengan keluarga, yang penting bisa hidup tenang dan tercukupi. Tapi tetap harus menyisihkan/menabung uang untuk membeli sebuah rumah.

Menurut undang-undang no.2 thn 1992, asuransi adalah perjanjian antara 2 pihak atau lebih, terdiri dari pihak penanggung dan pihak tertanggung. Pihak penanggung (perusahaan asuransi) akan menerima premi-Asuransi dari pihak tertanggung (orang yang mengikuti asuransi). Dengan begitu, penanggung mengikatkan dirinya untuk mengganti kerugian kita (tertanggung) yang dikarenakan suatu peristiwa yang tidak pasti. Asuransi mengandung kontrak dengan menyebutkan kondisi yang diasuransikan. Jadi melalui Asuransi, kita menyalurkan kemungkinan risiko kerugian yang mungkin kita tanggung kepada pihak Asuransi dengan membayar mereka premi.

 

Sebagai orang yang mengalihkan resiko kita pada pihak asuransi, kita sebaiknya dapat memperkirakan berapa besar kerugian yang mungkin kita alami. Menghitung kemungkinan terjadinya kerugian, dikalikan besarnya kerugian tersebut. Misalnya kita ingin melindungi kekayaan senilai 100juta, berarti bila terjadi kecelakaan sesuai perjanjian, kita akan diberi ganti rugi sebesar 100juta. Namun bila kemungkinan terjadinya kecelakaan tersebut sangat kecil, misalnya hanya 5%, maka melalui hitungan sederhana biaya yang kita patut bayar adalah 0,05×100juta = 5juta. Tapi ini hanya perhitungan yang sangat sederhana, dengan mengabaikan hal-hal lainnya.

 

Ada beberapa asuransi yang penting untuk kita miliki:

  1. Asuransi Kesehatan.
  2. Asuransi Jiwa.
  3. Asuransi Rumah.
  4. Asuransi Pendidikan.

Keempat jenis Asuransi diatas menjadi penting karena merupakan Faktor-faktor yang akan sangat mempengaruhi Finansial kita. Bila kesehatan kita terganggu, banyak hal yang akan terbengkalai termasuk pekerjaan kita. Sedangkan bila mau berobat, biayanya tidak sedikit. Biaya pengobatan ini, dapat dibebankan kepada pihak Asuransi dengan mengikuti Asuransi Kesehatan. Keluarga kita sangat bergantung pada penghasilan dari seorang kepala keluarga (suami, apalagi yang istrinya tidak bekerja). Bila kepala keluarga meninggal, kita bukan hanya kehilangan orang yang kita kasihi, namun juga kehilangan pemasukan bagi keluarga. Pada kasus inilah, Asuransi jiwa akan sangat membantu kita. Asuransi Rumah melindungi salah satu kebutuhan utama kita yaitu tempat tinggal. Selain itu, Asuransi rumah menjadi penting karena Rumah adalah salah satu asset kita yang sangat bernilai. Asuransi Pendidikan menjamin kebutuhan biaya pendidikan anak-anak kita. Di jaman yang semakin modern ini, pendidikan telah menjadi salah satu syarat untuk berhasil dalam kehidupan ini.

 

Salah satu hal penting dalam Asuransi, ialah perjanjiannya. Kita perlu mencermati setiap point perjanjian yang ada, dan menanyakan bagian yang tidak kita mengerti kepada Agen Asuransinya. Bila perlu, sebelum menandatangani perjanjian, konsultasikan dulu dengan kerabat yang sudah pernah mengikuti asuransi jenis itu sebelumnya. Tanyakan untung-rugi yang mungkin terjadi. Atau konsultasikan dengan orang lain yang lebih berpengalaman. Bisa lewat internet, atau acara-acara Radio yang mungkin kebetulan membahas mengenai Asuransi. Hal ini penting mengingat bahwa anda akan membuat perjanjian jangka panjang yang akan mempengaruhi Finansial anda. Jangan sampai menyesali telah mengikuti suatu Asuransi, dan merasa rugi pada kemudian hari.

Pertanyaan :

Pak, saya dan pasangan saya baru saja menikah. Saya dan Istri saya sama-sama bekerja sebagai Pegawai biasa. Penghasilan total kami 3,5 juta per bulan. Saya berumur 32 tahun, sedangkan istri saya berumur 29 tahun. Apa saran bapak untuk strategi Finansial kami?

Jawab:

Yang harus anda lakukan pertama-tama adalah menetapkan Tujuan Finansial dalam jangka panjang dan pencapaian dalam jangka pendek. Anda serta istri anda duduk bersama dan merencanakan bagaimana Kondisi Finansial yang anda berdua inginkan 5 tahun ke depan, 10 tahun ke depan, dan 20 tahun ke depan. Semakin dekat waktu pencapaiannya, semakin jelas dan terperinci anda menyusunnya. Kondisi Finansial dalam 5 tahun ke depan, harus jauh lebih terperinci dan jelas bila dibandingkan dengan pencapaian finansial anda 20 tahun lagi.
Bagaimana Gaji anda 5 tahun lagi? Apakah anda menginginkan peningkatan jabatan? Ataukah anda sudah berada pada posisi maximal dalam kapasitas anda sehingga tidak mungkin mengalami promosi? Dapatkah anda meminta bonus dari perusahaan tempat anda bekerja, dengan (tentu saja) meningkatkan kinerja anda atau menambah jam kerja anda? Bagaimana dengan Istri anda? Dapatkah dia mempertimbangkan hal yang sama?
Dalam mencapai tujuan ini, hal apa yang harus anda korbankan? Waktu yang lebih banyak untuk bekerja? Uang untuk membeli buku pengembangan diri dengan harapan dapat meningkatkan kinerja anda di perusahaan? Waktu anda bersama dengan keluarga harus dikurangi? Anda tidak dapat melakukan hobi anda? Ataukah masih ada hal lain yang harus anda bayar untuk mendapat peningkatan Gaji ini?
Apakah anda ingin tetap bekerja pada tempat kerja anda yang sekarang, atau anda berencana untuk pindah kerja? Risiko apa yang mesti anda tanggung untuk menjalanan rencana ini? Apakah Peningkatan Gaji dan Penghasilan yang anda rencanakan sebanding dengan pengorbanan yang anda berikan? Di tempat kerja yang baru, anda mungkin harus ”mulai dari bawah”. Anda harus membangun kepercayaan dari perusahaan terhadap diri anda. Anda harus mengembangkan relasi yang baru dengan Teman Kantor yang baru. Anda harus menyesuaikan diri dengan sistim yang baru.

Yang kedua adalah menyusun dan mengevaluasi anggaran Keluarga anda setiap bulannya. Susun kebutuhan bulanan anda, dan usahakan untuk menyisihkan minimal 10% dari penghasilan anda tiap bulannya untuk ditabung sebagai dana-darurat. Selain pengeluaran bulanan, rencanakan juga pengeluaran yang tidak rutin yang mungkin akan kita lakukan dalam 5 tahun ini. Misalnya kebutuhan untuk biaya kehadiran ”si kecil”, pembelian perkakas rumah-tangga, dan lain-lain.
Perkirakan juga hal-hal yang mungkin terjadi, beserta segala pengaruhnya bagi Finansial anda dan keluarga. Misalnya bila Istri anda hamil, maka perlu biaya tambahan untuk menjaga kesehatannya dan bayinya. Istri anda tidak boleh terlalu lelah dalam bekerja, sehingga produktivitasnya mungkin akan menurun. Sehingga bila gaji istri anda dihitung berdasarkan jam kerjanya, maka jelas penghasilannya akan menurun. Terlebih lagi ketika akan melahirkan bayinya, istri anda harus masuk rumah sakit dan biayanya tidak murah. Istri anda dan anda sendiri harus mempersiapkan diri dengan pengetahuan yang cukup dalam mengurus bayi anda. Biaya lebih harus dikeluarkan untuk kebutuhan Bayi anda.

Hal terakhir yang harus anda pertimbangkan adalah:
Apakah harga yang anda bayar, sepadan dengan apa yang akan anda dapati? Ketika kita membayar harga selama jangka waktu pencapaian yang direncanakan (misalnya 5 tahun), apakah akan mengganggu Target-target kehidupan kita yang lain? Bilamana dengan mengorbankan waktu anda bersama keluarga, demi pekerjaan dapat meningkatkan jabatan dan penghasilan anda; apa yang terjadi bila waktu bersama dengan keluarga anda terus kurangi selama 5 tahun tersebut? Mungkin keluarga anda (Istri dan mungkin anak-anak anda) tidak lagi begitu dekat dengan anda pada akhirnya. Anda dan Istri anda perlu mempertimbangkan pengaruh jangka panjang dari setiap pengorbanan yang dilakukan.