Fundamental : Menilai Resiko (2)

Hutang (2)

Tentu walaupun tergantung pada kemampuan perusahaan dalam mengelola hutang, besarnya hutang  dan jenis hutang juga berpengaruh pada perusahaan. Ada bebera hal yang perlu diketahui mengenai hal ini :

  1. Dominasi /Mata Uang Hutang

Perusahaan yang berhutang dalam mata uang asing memiliki resiko dalam gejolak financial global. Maksudnya jika mata uang asing tiba – tiba menguat terhadap rupiah, maka hutang dan beban hutang perusahaan pun bertambah.

Misal pada kurs 9000, pak oentoeng meminjam 1 juta dollar kepada bank, berarti ekuivalen dengan 9 Miliar rupiah. Dua tahun kemudian jatuh tempo dan pak oentoeng harus mengembalikan 1 Juta US Dollar kepada bank , sementara tiba – tiba karena lagi krisis, US dollar sedang menguat jadi 11.000, maka pak oentong harus membayar 11 Miliar rupiah / 1 Juta US dollar kepada bank. Karena bank hanya tau pak oentoeng meminjam1 juta dollar, bank tidak akan peduli berapa nilai rupiahnya.

Sebaliknya jika pak oentong meminjam 1 juta dollar pada kurs 11.000 sementara waktu mengembalikan kursnya jadi 9000, maka pak oentoeng bisa untung 1 juta x Selisih 2000 = m miliar rupiah.

  1. Jenis Hutang

Saya akan membahas beberapa jenis hutang (tidak semua)

  1. Bond / Obligasi

Merupakan hutang biasa yang memiliki suku bunga tertentu dan jangka waktu tertentu, bisa dalam mata uang rupiah maupun mata uang asing (Euro, Yen, USD, dll). Yang harus dibayarkan pada waktu jatuh tempo. Biasanya obligasi diterbitkan dengan jaminan tertentu

  1. Convertible Bond / Obligasi Konversi

Yaitu suatu jenis obligasi yang dapat dikonversikan atau diubah jadi saham, tentu selain dapat saham, juga dapat suku bunga trtentu dan bisa ditebus oleh perusahaan penerbit (buyback). Misal perusahaan Pak Oentoeng “PT Oentoeng Toeroes”sedang butuh modal 100 Miliar. Maka perusahaannya bisa mencari investor yang mau membeli Obligasi Konversi RP. 100 Miliar  dengan suku bunga 5% dan dapat ditukar dengan 1 Juta lembar saham PT Oentoeng Toeroes pada tanggal jatuh tempo.

Pada tanggal jatuh tempo, investor pasti mendapatkan bunga 5% per tahun ditambah, kalau tidak ditebus oleh PT Oentoeng Toeroes, maka investor bisa mendapatkan 1 Juta lembar saham PT Oentoeng Toeroes.

Contoh riil, bisa dicari – cari Tahun 2008, saham BUMI dengan kasus convertible bond triliunan rupiah yang diperkirakan menjadi salah satu penyebab kejatuhan saham BUMI dari 8750 hingga 385 per saham

  1. Hutang Internal

Dalam akuntansi, ada dikatakan istilah “Pihak yang mempunyai hubungan istimewa” Biasanya ini berarti ada relasi antara di Perusahaan namun kedua perusahaan tersebut dimiliki oleh satu pemiliki.

Misal “PT Oentoeng Toeroes” Merupakan induk usaha dari “PT Soeka Kaya”. Suatu ketika PT Soeka Kaya membutuhkan modal 10 Miliar, namun di saat yang sama PT Oentoeng Toeroes sedang kebanjiran likuiditas alias lagi banyak uang. Sehingga PT Oentoeng Toeroes meminjamkan uang untuk modal kepada PT Soeka Kaya  sebesar 10 Miliar yang dibutuhkan tersebut.

Biasanya kalau relasi seperti ini, ada banyak keringanan, sebab istilahnya, masuk kiri keluar kanan.

  1. Ikatan yang disebabkan oleh hutang

Untuk mengurangi  resiko, maka si pemberi hutang biasanya memberikan batasan – batasan tertentu kepada si penghutang untuk memberikan kepastian lebih bahwa si penghutang mampu membayar hutang2nya.

Misal ada kasus dimana perusahaan penghutang, selama belum membayar seluruh hutangnya, tidak boleh membagikan dividen, tidak boleh mengajukan pailit dan terkadang harus menjaga harga sahamnya di level tertentu. Serta ada pula kasus dimana perusahaan harus menjaga rasio keuangannya dalam rasio tertentu. Dan ada juga, selama belum lunas, perusahaan tidak boleh mengajukan hutang lain lagi dalam batas tertentu, misal batas maksimum hutang lagi adalah 10 Miliar.

Hal ini untuk menjamin bahwa perusahaan mampu membayar hutang – hutangnya.

  1. Rasio hutang yang wajar :

Tidak ada patokan pasti berapa rasio hutang terhadap ekuitas yang wajar dan tidak membebani perusahaan. Sebab setiap tipe perusahaan berbeda – beda. Untuk banking, biasanya DER nya tinggi, sebab dana nasabah juga dihitung sebagai hutang. Sehingga DER dari bank bisa mencapai sembilan hingga belasan kali modal. Dan hal ini tidak menjadi masalah. Sebab bisnis bank adalah mengumpulkan uang masyarakat dan menyalurkan kredit kepada yang membutuhkan.

Jadi untuk mengetahui DER yang wajar, harus dibandingkan antara emiten suatu sektoral. Misal antara emiten tambang nikel, bisa dibandingkan antara INCO dan ANTM.. Untuk batubara antara HRUM, BUMI, ADRO, PTBA, ITMG akan terlihat dimana yang hutang terbesar.

Leave a Reply

Connect with:

No provider registered!
Please visit the Settings\ WP Social Login administration page to configure this plugin.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>