Cabe, Beras, Telur, Gula dan Makro Ekonomi

Berbicara makro ekonomi mungkin bagi sebagian orang merupakan hal yang di angan – angan, terkesn sangat sulit dan memusingkan. Padahal, menurut saya, makro ekonomi sangat erat dengan kehidupan sehari – hari. Bahkan dengan mengamati curah hujan, kita bisa “mengorek” sedikit informasi makro ekonomi Indonesia.

Tahun 2011, sungguh aneh bin ajaib, dimana harga Cabe (cengek domba), bisa mencapai lebih dari Rp. 100.000 per Kg. bahkan sempat 125.000 per Kg di daerah2 tertentu. Alhasil, inflasi pun meningkat tajam, Index turun dan suku bunga dinaikan. pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir.

Seperti yang saya katakan di awal, makro ekonomi tidkalah jauh dari kehidupan sehari – hari. Salah satu komponen terpenting ekonomi makro adalah INFLASI. Dan karena orang – orang indonesia pada doyan makanan pedas (doyan cabe), maka harga cabe pun turut menjadi salah satu komponen inflasi.

Kebetulan pekerjaan saya yang lain adalah di bidang kuliner, sehingga setiap kali belanja ke pasar,saya selalu menanyakan harga Cabe. Dan dari sana saya bisa menebak beberapa bulan terakhir dengan benar, apakah akan inflasi atau deflasi lebih cepat daripada pengumuman BPS.Walau diakui memang tidak sampai detil, namun bisa memberikan gambaran.

Lalu apa hubungannya dengan curah hujan?… Selidik punya selidik, ternyata harga cabe naik karena curah hujan yang  tinggi. Sehingga menyebabkan banyak yang busuk.

Sehingga kita bisa mengambil suatu kesimpulan bahwa, curah hujan bisa mempengaruhi makro ekonomi indonesia. Ke depannya perlu kita waspadai bahwa akhir – akhir ini curah hujan cukup rendah sehingga walau harga cabe saat ini sedang turun, namun harga beras justru naik sebab ada ancaman gagal panen karena curah hujan yang rendah.

Selain cabe dan beras, perlu kita waspadai juga harga gula dan telur. Ke empat harga arang ini (cabe, beras, telur, gula), merupakan penyumbang inflasi yang cukup tinggi sehingga perlu kita waspadai pergerakannya.

Hal terpenting dari makro ekonomi disini adalah INFLASI. Kalau cabe, beras, telur dan gula merupakan penyebab inflasi (atau deflasi), maka saat ini kita akan bahas mengenai dampak dari inflasi (atau deflasi).

Anggap saja Keluarga pak Budi memiliki pendapatan 1.500.000 per bulan. Berikut daftar pengeluaram keluarga pak Budi yang disusun oleh ahli keuangan keluarga, si bu budi ketika harga cabe RP. 25.000 / kg :

Listrik : Rp. 150.000

Gas : Rp. 150.000

Makan : Rp. 500.000

Sekolah Anak : Rp.  200.000

Rekreasi : Rp. 200.000

Tabungan : Rp. 300.000

anggap saja keluarga pak budi ini doyan cabe dan meng konsumsi cabe +- 2 Kg per bulan.

Saat harga cabe 25.000 per kg, uang makan mereka Rp. 500.000 per bulan, sementara Rp. 50.000 berasal dari cabe.

nah harga cabe naik menjadi Rp. 100.000 per kg. Jadi buat cabe saja mereka harus mengeluarkan Rp. 200.000 per bulan jadi jika mereka mempertahankan konsumsi cabe 2 kg per bulan, maka ada tambahan pengeluaran Rp. 150.000 per bulan. namun ingat, gaji pak budi tidak bertambah seiring dengan kenaikan harga cabai. Keluarga pak budi punya beberapa pilihan :

1. Kurangi konsumsi cabe menjari 1/2 kg per bulan, sehingga pengeluaran cabe tetap 50.000 per bulan, walau sangat sulit bagi yang biasa makan pedes, tiba2 gak pedes lagi

2. Tabungan dikurangi jadi RP. 150.000 per bulan, sementara cabe tetap 2 Kg per bulan.

3. Rekreasi yang dikurangi jadi Rp. 50.000 per bulan

Normalnya, sangat kecil kemungkinan uang sekolah anak yang dikorbankan.

Disini kita melihat dampak inflasi. Uang yang dimiliki pak budi tetap sama , gajinya tetap RP. 1.500.000 per bulan. tidak berubah, namun apa yang bisa dibelanjakan menjadi berubah, atau apa yang bisa ditabung berubah. Semula bisa rekreasi dengan budget 200.000 setelah harga cabe naik jadi 100.000 per Kg, berubah jadi rp. 50.000 per bulan.

Sebelumnya bisa nabung 300.000 per bulan, setelah cabe naik jadi hanya bisa nabung 150.000 per bulan.

Skarang…bayangkan ada 1 juta keluarga pak budi. kita kalikan ya. dan kita anggap saja biaya rekreasi yang dikorbankan (biasanya tabungan dipertahankan)

semula 1 juta keluarga pak budi bisa habiskan Rp. 200.000 untuk rekreasi. menjadi Rp. 200.000.000.000 atau rp. 200 Miliar per bulan untuk rekreasi.

Setelah harga cabe naik, maka rekreasi diturunkan menjadi RP. 50.000 x 1 juta keluarga = 50.000.000.000 = RP. 50 miliar

Skarang kita lihat, kemana lainya uang 200 miliar per bulan itu, biasanya ke MALL, tempat rekreasi keluarga paling OKS saat ini mungkin adalah mall. Dan terbukti selama beberapa bulan terakhir pengunjung mall cukup turun saat harga cabe lagi tinggi – tingginya.

Karena pengeluaran buat rekreasi beralih buat beli cabe.

Intinya sih DAYA BELI…

INFLASI NAIK = DAYA BELI TURUN

Daya beli turun, karena jumlah yang sama namun nilainya turun.

Kalau kita rututkan, bisa panjang… buat saat ini, cukup ini dulu ya…

Leave a Reply

Connect with:

No provider registered!
Please visit the Settings\ WP Social Login administration page to configure this plugin.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>